Tutorial | Bisnis | Finance

Saturday, August 31, 2019

Ternyata Sawo Organik Dari Blora Dilirik Oleh Negeri Paman Sam

| Saturday, August 31, 2019

Ternyata Sawo Organik Dari Blora Dilirik Oleh Negeri Paman Sam

Warga Desa Bangoan, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora dikenal sebagai sentra nya penghasil sawo. Terdapat ribuan pohon sawo yang ditanam warga di pekarangan dan kebun belakang rumahnya, terutama para warga Dukuh Watugunung.

"Khusus di Dukuh Watugunung terdapat 800 pohon yang sudah berbuah, sedangkan pohon yang muda dan bibit cangkoknya juga ada ratusan. Jika kita ditotal ya sekitar seribu lebih. Kebetulan pada saat ini sedang musim buahnya," ungkap dari Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora, yaitu Reni, dalam keterangannya tersebut.

Menurut Reni, bahwa warga Dukuh Watugunung sudah sejak lama membudidayakan tanaman buah sawo lokal ini yang memiliki rasa dan kualitasnya tidak kalah dengan sawo unggulan dari daerah lain.

"Sejak puluhan tahun yang lalu tanaman buah sawo ini tumbuh sangat baik di sini, namun mulai dikenal oleh masyarakat luas pada awal tahun 2000-an. Pada saat itu para tengkulak dari Sulang Rembang mulai ramai berdatangan untuk membeli sawo di desa kami," jelasnya.

Berdasarkan data dari BPS tahun 2018, populasi tanaman sawo yang sudah dapat menghasilkan ada sebanyak 3.205 pohon, yang menyebar di Kecamatan Jiken dan Todanan. Hingga kini pada setiap musim panen, para petani tidak susah lagi untuk menjual buah tersebut karena sudah banyak sekali para tengkulak yang datang sendiri kesini.

"Mereka datang kesini dan mengambil sawo sendiri di pohon dengan sistem tebas," ujarnya.
Ternyata, beberapa tahun yang lalu buah ini juga pernah memperoleh juara di gelaran Pameran Produk Pertanian Soropadan Agro Expo tingkat Jawa Tengah. Selain itu juga para petani juga pernah memperoleh penghargaan dari Pelestari Sumber Daya Genetik tingkat Jawa Tengah dari Gubernur Ganjar Pranowo pada tahun 2015,dan dapat berhasil meraih sertifikat organic dari Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman yang berlaku hingga tahun 2018.

Agar bisa dapat mempertahankan kualitas terbaik dari buah sawo agar bisa tetap sama dengan induknya, para petani buah sawo di Dukuh Watugunung Desa Bangoan ini juga melakukan pembibitan dengan cara mencangkok tanaman.

"Dengan sistem cangkok, diharapkan buah yang dihasilkan nantinya tidak jauh berbeda dengan induknya. Apalagi dengan sistem cangkok ini, pohon akan lebih cepat berbuah jika dibandingkan dengan bibit hasil biji," terangnya.

Menariknya lagi, buah yang memiliki rasa manis dan legit ini dilirik oleh negara Amerika Serikat. Salah satu pelaku usaha yang telah menjalin kerja sama dengan Pemda Kabupaten Blora untuk mengidentifikasi tanaman sawo organik ini siap ekspor.

Perwakilan PT Little Green, yaitu Dewi saat ditemui, menjelaskan bahwa dirinya memberi sampel sawo organik ini untuk dicicipi para calon pembeli. Dan responnya yang positif terhadap sawo organik ini dan mereka berencana akan bertandang ke Blora untuk melihat langsung bagaimana pertanaman sawo bangoan pada Oktober mendatang.

"Kami juga sangat berharap Dinas Pertanian maupun Kementerian Pertanian dapat mendukung rencana ekspor ini. Termasuk juga dapat menyiapkan buah sawo yang sangat berkualitas sesuai dengan persyaratan dari negara tujuan hingga membantu dalam memproses perpanjangan sertifikasi organiknya yang kini telah habis masa berlakunya," ujar Dewi.

Sementara itu, Direktur Buah dan Florikultura, Liferdi, sangat mengapresiasi sekali dengan rencana ekspor sawo organik Blora ke negara adidaya ini.

"Hal ini merupakan kejutan yang sangat luar biasa dan sangat membanggakan jika buah tropis organik Indonesia ini mampu menembus pasar negara Paman Sam tersebut yang terkenal ketat itu," ungkap Liferdi.

Pada saat ini juga dari Kementerian Pertanian akan terus memacu peningkatan dari ekspor komoditas pertanian terutama dari buah-buahan tropis yang masih banyak sekali disukai oleh pasar luar negeri termasuk negara Jepang, Eropa dan Amerika Serikat. Buah-buahan tropis yang banyak diminati antara lain adalah buah manggis, mangga, salak, buah naga, alpukat, durian dan sebagainya.
"Siapa sangka, neraca perdagangan buah durian yang selama ini di anggap negatif, sejak tahun 2017 berbalik menjadi sangat positif," jelasnya.

Liferdi juga menjelaskan bahwa volume ekspor buah-buahan tropis di Indonesia menunjukkan tren yang sangat meningkat. Berdasarkan data dari BPS, angka ekspor buah pada tahun 2017 sebesar 41 ribu ton senilai dengan Rp 323 miliar. Angka ini mengalami peningkatan sangat besar yaitu 117 persen pada tahun 2018 menjadi 89 ribu ton yaitu senilai dengan Rp 882 miliar. Untuk sawo pada tahun 2018 volumenya menjadi 76 ton senilai dengan Rp 1,8 miliar.

"Dari sekian banyak komoditas buah yang diekspor tersebut, buah sawo merupakan salah satunya walaupun masih dalam volume yang kecil," ungkapnya.

Ekspor sawo juga perlu untuk terus didorong, dengan mengingat bahwa buah ini merupakan salah satu buah tropis eksotis yang tidak banyak dimiliki oleh negara .

"Kementerian Pertanian juga akan membantu persiapan ekspornya mulai dari penyiapan kebun melalui registrasi kebun, registrasi packing house dan perkarantinaannya. Peluang ini harus kita tangkap dan kita manfaatkan dengan baik agar buah-buahan tropis semakin mendunia," tutup Liferdi yang sangat optimis.


Related Posts

No comments:

Post a Comment